Makna Sa'i antara Shafa dan Marwah
Makna Sa'i antara Shafa dan Marwah
Di Balik Tujuh Kali Langkah, Ada Pelajaran Hidup yang Tak Ternilai
Ada sebuah ritual dalam umroh dan haji yang sekilas tampak sederhana — berjalan bolak-balik antara dua bukit sejauh kurang lebih 450 meter, sebanyak tujuh kali. Tapi siapa sangka, di balik langkah-langkah itu tersimpan salah satu kisah paling menggetarkan dalam sejarah manusia. Kisah tentang seorang ibu, seorang bayi, dan kepercayaan yang tidak goyah meski dunia terasa runtuh.
Awal Mula: Sebuah Lembah yang Kosong dan Sunyi
Ribuan tahun lalu, di sebuah lembah gersang yang tidak ada air, tidak ada pohon, tidak ada kehidupan — seorang perempuan ditinggalkan bersama bayinya yang masih menyusu.
Ia adalah Hajar. Bayinya adalah Ismail. Dan yang meninggalkan mereka adalah suaminya, Ibrahim, atas perintah Allah.
Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada jaminan akan ada yang datang menolong. Hanya keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang pasrah.
Ketika perbekalan habis dan air susunya mengering, Hajar berlari. Ia mendaki Bukit Shafa, memandang jauh ke segala arah mencari tanda-tanda kehidupan. Tidak ada. Ia turun, berlari menyeberangi lembah, mendaki Bukit Marwah. Tidak ada juga. Ia ulangi lagi. Dan lagi. Tujuh kali ia berlari antara dua bukit itu — bukan karena panik, tapi karena ia tidak menyerah.
Pada titik itulah, Allah mengutus malaikat Jibril. Kaki kecil Ismail menghentak tanah — dan dari bawahnya, memancarlah air. Air zamzam. Air yang hingga hari ini tidak pernah berhenti mengalir.
Sa'i: Mengulang Langkah, Menghidupkan Makna
Ketika seorang jamaah melakukan sa'i hari ini — berjalan dari Shafa ke Marwah lalu kembali lagi — ia sedang mengulang jejak Hajar. Bukan sekadar ritual fisik, tapi sebuah pengingat yang hidup dan bergerak.
Islam mengabadikan perjuangan seorang ibu menjadi bagian dari ibadah yang wajib. Tidak ada nabi yang diabadikan dalam sa'i. Yang diabadikan adalah langkah seorang perempuan biasa yang percaya luar biasa.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah pesan.
Pelajaran Pertama: Bergerak adalah Bentuk Doa
Hajar tidak duduk diam menunggu pertolongan. Ia berlari. Ia berusaha dengan sekuat yang ia bisa — meski ia tahu bahwa usahanya mungkin tidak akan menghasilkan apa pun tanpa izin Allah.
Inilah yang sering disalahpahami banyak orang tentang tawakal. Tawakal bukan pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah melakukan semua yang bisa dilakukan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati yang tenang.
Ketika seseorang sedang dalam kesulitan — kehilangan pekerjaan, dililit utang, menunggu kesembuhan, atau berjuang dalam hubungan yang retak — sa'i mengingatkan: tetaplah bergerak. Teruslah berusaha. Jangan berhenti hanya karena belum terlihat hasilnya.
Pelajaran Kedua: Pertolongan Allah Datang di Batas Kemampuan Manusia
Hajar baru mendapatkan pertolongan setelah ia benar-benar kehabisan cara. Setelah tujuh kali bolak-balik. Setelah air mata dan tenaganya nyaris habis.
Bukan karena Allah lambat. Tapi karena itulah momen di mana hati manusia paling bersih, paling kosong dari kesombongan, dan paling siap menerima karunia.
Banyak di antara kita yang berdoa, tapi masih menyisakan sedikit rasa bahwa kita bisa menyelesaikan masalah sendiri. Pertolongan Allah kadang sengaja datang terlambat — bukan untuk menyiksa, tapi untuk memastikan kita benar-benar hanya bergantung kepada-Nya.
Pelajaran Ketiga: Perjuangan yang Ikhlas Tidak Pernah Sia-sia
Air zamzam bukan hanya muncul untuk menyelamatkan Hajar dan Ismail hari itu. Ia terus mengalir selama ribuan tahun setelahnya. Menjadi sumber kehidupan bagi jutaan manusia yang datang berhaji dan berumroh. Menjadi air yang dibawa pulang ke seluruh penjuru dunia.
Satu perjuangan yang ikhlas — dari satu perempuan di satu lembah yang sunyi — menghasilkan keberkahan yang tidak pernah berhenti hingga hari ini.
Ini adalah pengingat bahwa kita tidak selalu bisa melihat dampak dari perjuangan kita. Seorang ibu yang berjuang mendidik anaknya dengan sabar mungkin tidak akan melihat hasilnya dalam satu atau dua tahun. Tapi benih kebaikan yang ditanam dengan ikhlas — selalu tumbuh, meski perlahan, meski tak terlihat.
Saat Melakukan Sa'i: Lebih dari Sekadar Berjalan
Bagi jamaah yang sedang melaksanakan sa'i, ada baiknya untuk tidak hanya fokus pada hitungan putaran. Coba hadirkan hati sepenuhnya pada makna di setiap langkah.
Di Bukit Shafa, berdiri sejenak dan ingatlah: apa yang sedang diperjuangkan dalam hidup saat ini? Apa yang sedang dicari dan diharapkan? Hadapkan semua itu kepada Allah dengan jujur, seperti Hajar yang memandang jauh dari puncak bukit dengan harapan yang tak padam.
Di lembah antara dua bukit — di bagian yang dulunya merupakan titik terendah tempat Hajar berlari paling kencang — percepat langkah. Rasakan bahwa di titik paling berat dalam hidup sekalipun, manusia tetap harus terus bergerak maju.
Di Bukit Marwah, setelah tujuh putaran selesai, berdiri dan sadari: perjalanan ini bukan tentang jarak yang ditempuh. Tapi tentang seberapa dalam hati ini menyerahkan diri kepada Yang Maha Mengatur.
Sa'i adalah salah satu momen paling manusiawi dalam seluruh rangkaian ibadah umroh dan haji. Ia tidak meminta kita untuk sempurna. Ia hanya meminta kita untuk terus berjalan — meski lelah, meski belum ada jawaban, meski jalan ke depan belum terlihat jelas.
Karena di ujung setiap perjuangan yang ikhlas, selalu ada zamzam yang menunggu untuk memancar.