Kamis, 26 Februari 2026

Waktu Mustajab Berdoa Saat Umroh

Waktu Mustajab Berdoa Saat Umroh

Waktu Mustajab Berdoa Saat Umroh

Jangan Lewatkan Momen-Momen Ini di Tanah Suci

Setiap sudut Tanah Suci adalah tempat yang istimewa untuk berdoa. Tapi ada momen-momen tertentu di mana doa terasa lebih dekat ke langit — waktu-waktu yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadis sebagai waktu mustajab, waktu di mana pintu langit terbuka lebih lebar dan Allah lebih mendekat kepada hamba-Nya yang memohon.

Mengetahui waktu-waktu ini bukan soal mencari "trik" dalam beribadah. Ini adalah bentuk kesungguhan — bahwa jamaah tidak hanya hadir secara fisik di Tanah Suci, tapi juga hadir sepenuhnya dengan hati yang tahu kapan harus berhenti, duduk, dan benar-benar berbicara kepada Allah.

Saat Pertama Kali Melihat Ka'bah

Ada sebuah momen yang hanya terjadi sekali dalam setiap kunjungan ke Masjidil Haram — dan itu adalah detik pertama ketika mata melihat Ka'bah untuk pertama kalinya.

Para ulama menyebutkan bahwa doa yang dipanjatkan tepat pada momen itu memiliki keutamaan yang sangat besar. Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa doa saat pertama kali melihat Ka'bah adalah salah satu doa yang paling diijabah.

Sayangnya, momen ini sering terlewat begitu saja. Jamaah yang baru tiba biasanya sibuk dengan rombongan, koper, atau sekadar terkagum-kagum dengan pemandangan di depannya. Padahal justru di sinilah — di tengah rasa kagum dan haru yang paling murni itu — doa yang keluar dari hati terasa paling jujur dan paling kuat.

Siapkan doa-doa terpenting jauh sebelum berangkat. Ketika Ka'bah pertama kali terlihat, berhentilah sejenak. Angkat tangan. Dan bicaralah kepada Allah dari bagian diri yang paling dalam.

Saat Tawaf — Khususnya di Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad

Seluruh rangkaian tawaf adalah waktu yang baik untuk berdoa dan berzikir. Namun ada satu segmen tawaf yang secara khusus disebutkan dalam hadis sebagai tempat doa yang istimewa — yaitu perjalanan antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.

Di antara dua titik ini, Rasulullah SAW mengajarkan doa yang sangat indah: memohon kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan perlindungan dari azab neraka. Doa ini bisa diulang setiap kali melewati segmen yang sama di setiap putaran tawaf.

Selain doa tersebut, gunakan seluruh waktu tawaf untuk memanjatkan hajat-hajat pribadi yang paling dalam. Tidak ada batasan bahasa dalam berdoa — Allah memahami setiap bahasa dan setiap bisikan hati, bahkan yang tidak terucapkan sekalipun.

Saat Multazam — Tempat yang Paling Dekat dengan Ka'bah

Multazam adalah bagian dinding Ka'bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Dalam tradisi ulama dan pengalaman jamaah dari generasi ke generasi, Multazam disebut sebagai salah satu tempat paling mustajab untuk berdoa di seluruh muka bumi.

Cara berdoa di Multazam adalah dengan menempelkan dada, pipi, dan kedua tangan pada dinding Ka'bah, lalu berdoa dengan sepenuh hati. Di sinilah banyak jamaah menitikkan air mata tanpa bisa ditahan — bukan karena dipaksakan, tapi karena ada sesuatu yang sangat kuat dari kedekatan fisik dan spiritual yang terjadi di momen itu.

Karena kepadatan jamaah, tidak selalu mudah untuk mencapai Multazam. Cobalah pada waktu-waktu yang lebih lengang seperti setelah Subuh atau tengah malam. Jika tidak memungkinkan untuk menyentuh dindingnya, menghadap ke arah Multazam dari jarak tertentu sambil berdoa tetap bermakna.

Saat Minum Air Zamzam

Rasulullah SAW bersabda bahwa air zamzam itu sesuai dengan niat orang yang meminumnya. Ini adalah salah satu hadis yang paling sering dikutip oleh para jamaah — dan ia menyimpan pelajaran yang sangat dalam.

Ketika minum zamzam, jangan terburu-buru. Berhentilah sejenak sebelum meneguk. Hadirkan niat yang paling tulus — apakah itu kesembuhan, kemudahan rezeki, keberkahan keluarga, atau apapun yang sedang menjadi hajat terbesar dalam hidup. Lalu minumlah sambil berdoa, menghadap kiblat, dengan penuh keyakinan bahwa Allah mendengar.

Momen minum zamzam yang dilakukan dengan kesadaran penuh ini terasa sangat berbeda dibandingkan meminumnya hanya karena haus atau sekadar rutinitas.

Saat Sa'i — Terutama di Atas Bukit Shafa dan Marwah

Di awal sa'i, ketika berdiri di atas Bukit Shafa dan menghadap Ka'bah, ada sunnah Rasulullah SAW untuk berdoa dan berzikir sebelum memulai perjalanan. Momen ini adalah waktu yang sangat baik untuk memanjatkan doa-doa besar — hajat yang sudah lama disimpan, permohonan yang belum terjawab, atau rasa syukur yang ingin diungkapkan dengan cara yang lebih dari sekadar ucapan biasa.

Hal yang sama berlaku ketika berdiri di atas Bukit Marwah. Di setiap pergantian arah — dari Shafa ke Marwah dan sebaliknya — ada momen berhenti yang bisa diisi dengan doa yang sungguh-sungguh sebelum melanjutkan langkah.

Sepertiga Malam Terakhir

Waktu mustajab ini bukan khusus untuk Tanah Suci — ia berlaku di mana pun seseorang berada. Namun ketika waktu sepertiga malam terakhir bertemu dengan tempat yang paling suci di muka bumi, keutamaannya menjadi berlipat ganda.

Sepertiga malam terakhir — kira-kira satu hingga dua jam sebelum Subuh — adalah waktu di mana Allah turun ke langit dunia dan berfirman: siapa yang berdoa, akan Aku kabulkan. Siapa yang memohon ampun, akan Aku ampuni.

Bagi jamaah yang memiliki kesempatan untuk bangun di waktu ini dan berjalan menuju Masjidil Haram — atau bahkan hanya berdoa dari kamar hotel dengan menghadap kiblat — jangan lewatkan waktu ini. Inilah salah satu momen paling berharga yang tersedia di Tanah Suci dan tidak ada di tempat lain dengan cara yang sama.

Setelah Shalat Fardhu

Waktu setelah shalat fardhu adalah waktu yang disebutkan dalam hadis sebagai salah satu waktu yang doa di dalamnya tidak tertolak. Melaksanakan shalat fardhu berjamaah di Masjidil Haram — yang pahalanya setara dengan seratus ribu kali shalat di tempat lain — lalu memperpanjang duduk setelahnya untuk berdoa adalah kombinasi yang luar biasa.

Jangan langsung berdiri dan bergegas meninggalkan tempat duduk setelah salam. Ambil beberapa menit — atau lebih lama jika memungkinkan — untuk berzikir, membaca Al-Fatihah, dan menyampaikan hajat-hajat kepada Allah di waktu yang istimewa ini.

Hari Jumat — Khususnya Menjelang Ashar

Dalam setiap pekan, ada satu waktu di hari Jumat yang disebutkan Rasulullah SAW sebagai waktu di mana doa pasti dikabulkan. Para ulama berbeda pendapat tentang kapan tepatnya waktu itu, namun pendapat yang paling kuat menyebutkan bahwa ia berada di penghujung hari Jumat — menjelang waktu Ashar hingga terbenamnya matahari.

Jika keberangkatan umroh mencakup hari Jumat, tandai waktu ini dan siapkan doa-doa terbaik. Duduk di Masjidil Haram pada hari Jumat di waktu tersebut sambil berdoa adalah kesempatan yang sangat langka dan sangat berharga.

Saat Hujan Turun di Tanah Suci

Hujan di Mekkah dan Madinah adalah peristiwa yang tidak selalu terjadi — dan ketika ia turun, ada keutamaan berdoa di bawahnya yang disebutkan dalam beberapa riwayat ulama. Bukan sekadar tradisi, tapi keyakinan bahwa momen langka ini membawa keberkahan tersendiri.

Jika hujan turun selama di Tanah Suci, jangan hanya berlindung dan menunggu reda. Angkat tangan, pejamkan mata, dan sampaikan doa dengan penuh harap.

Tanah Suci adalah tempat di mana jarak antara doa dan langit terasa paling tipis. Tapi momen-momen mustajab ini mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah bukan hanya soal tempat — tapi juga soal waktu yang dipilih, hati yang dihadirkan, dan kesungguhan yang tidak pura-pura.

Siapkan doa-doa terpenting sebelum berangkat. Tuliskan jika perlu. Karena di Tanah Suci, waktu terasa berlari — dan momen mustajab yang terlewat tidak akan kembali dalam kunjungan yang sama.

Bawa semua hajat itu. Allah sudah menunggu untuk mendengarnya.

Terkait