Kamis, 19 Maret 2026

Keutamaan Shalat di Masjid Nabawi

Keutamaan Shalat di Masjid Nabawi

Keutamaan Shalat di Masjid Nabawi

Berdiri di Tempat yang Paling Dirindukan Sepanjang Sejarah

Ada masjid yang dibangun dengan kemewahan arsitektur yang memukau. Ada masjid yang dibangun dengan dana yang sangat besar. Ada masjid yang mampu menampung ratusan ribu jamaah sekaligus. Tapi tidak ada masjid di muka bumi — setelah Masjidil Haram — yang memiliki kedudukan dan keutamaan seperti Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwarah.

Bukan karena ukurannya. Bukan karena kemegahannya. Tapi karena di sinilah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah berdiri, bersujud, dan memimpin shalat. Karena tanah di bawahnya pernah menyentuh telapak kaki manusia paling mulia yang pernah ada. Dan karena di sini pula — di sudut yang paling dicintai dari seluruh masjid — Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dimakamkan.

Keutamaan yang Disebutkan Langsung oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Tidak perlu mencari jauh untuk menemukan dasar keutamaan shalat di Masjid Nabawi. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sendiri yang menyebutkannya dengan sangat jelas — dan hadis ini adalah salah satu yang paling masyhur di kalangan umat Islam di seluruh dunia.

Satu kali shalat di Masjid Nabawi setara dengan seribu kali shalat di masjid lainnya — kecuali Masjidil Haram yang nilai satu shalatnya setara dengan seratus ribu shalat. Angka ini bukan kiasan atau perumpamaan — ia adalah keutamaan yang ditetapkan Allah dan disampaikan langsung melalui lisan Nabi-Nya.

Artinya, seorang jamaah yang melaksanakan shalat lima waktu selama sepuluh hari di Masjid Nabawi secara matematis sedang mengumpulkan pahala yang setara dengan lima puluh ribu shalat di masjid biasa. Tapi tentu saja, angka ini bukan yang paling penting untuk dipikirkan — karena siapa yang mampu benar-benar menghitung urusan pahala di sisi Allah? Yang lebih penting adalah memahami bahwa Allah memberikan penghargaan yang luar biasa besar atas setiap langkah yang dibuat menuju masjid ini.

Raudhah — Taman dari Surga di Tengah Masjid

Di dalam Masjid Nabawi, ada sebuah area yang kedudukannya bahkan lebih istimewa dari masjid itu sendiri — dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menggambarkannya dengan kata-kata yang tidak mungkin terlupakan oleh siapapun yang pernah mendengarnya.

Raudhah adalah taman dari taman-taman surga.

Area ini terletak di antara rumah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam — yang kini menjadi makamnya — dan mimbar tempat beliau berkhutbah. Luasnya tidak terlalu besar, tapi nilainya tidak bisa diukur dengan apapun. Karpetnya berwarna hijau — berbeda dari karpet merah di area masjid lainnya — sehingga mudah dikenali oleh jamaah yang baru pertama kali datang.

Berdoa di Raudhah adalah salah satu momen yang paling dirindukan dan paling dicari oleh setiap jamaah yang berkunjung ke Madinah. Para ulama menyebutkan bahwa doa yang dipanjatkan di sini memiliki keutamaan yang sangat besar — dan banyak jamaah yang menceritakan bahwa momen di Raudhah adalah momen paling berkesan dari seluruh perjalanan umroh mereka.

Karena kepadatan jamaah yang ingin masuk ke Raudhah, akses ke area ini diatur secara terpisah untuk laki-laki dan perempuan, dengan jadwal yang ditetapkan pihak masjid. Bersabarlah dalam antrean dan manfaatkan waktu menunggu untuk berzikir dan berdoa — karena momen memasuki Raudhah adalah momen yang layak diperjuangkan.

Shalat Arbain — Amalan yang Sangat Dianjurkan

Dalam tradisi para jamaah yang berkunjung ke Madinah, ada satu amalan yang sangat dikenal dan sangat diupayakan — yaitu Shalat Arbain, melaksanakan empat puluh waktu shalat secara berturut-turut di Masjid Nabawi tanpa terputus.

Keutamaan yang diriwayatkan bagi yang berhasil melaksanakannya sangat besar — di antaranya adalah kebebasan dari api neraka, kebebasan dari azab, dan kebebasan dari kemunafikan. Untuk menyelesaikan empat puluh waktu shalat tanpa terputus dibutuhkan waktu sekitar delapan hingga sembilan hari penuh di Madinah — karena setiap hari ada lima waktu shalat yang harus dikerjakan berjamaah di masjid.

Ini adalah salah satu alasan mengapa banyak jamaah memilih paket umroh yang menyertakan waktu yang cukup panjang di Madinah — agar bisa menyelesaikan Shalat Arbain dengan sempurna.

Namun perlu dipahami bahwa Shalat Arbain adalah amalan yang sangat dianjurkan — bukan wajib dan bukan syarat sahnya umroh. Jamaah yang karena keterbatasan waktu tidak bisa menyelesaikan empat puluh waktu shalat tidak perlu merasa perjalanannya kurang sempurna. Setiap shalat yang dikerjakan di Masjid Nabawi tetap memiliki keutamaan yang luar biasa — dengan atau tanpa jumlah empat puluh.

Berziarah ke Makam Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Tidak bisa dipisahkan dari keutamaan shalat di Masjid Nabawi adalah kesempatan untuk berziarah ke makam Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam — salah satu momen paling mengharukan dalam seluruh perjalanan umroh.

Berdiri di depan makam Nabi — mengucapkan salam kepada beliau yang hidupnya seluruhnya dicurahkan untuk umat ini, yang perjuangannya tidak pernah benar-benar bisa dibalas oleh siapapun yang mencintainya — adalah pengalaman yang melampaui kata-kata.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda bahwa siapapun yang berziarah ke makamnya maka syafaatnya wajib baginya. Ini adalah janji yang begitu agung sehingga para ulama menyebutkan bahwa jika seseorang bisa hanya melakukan satu hal di Madinah, maka ziarah ke makam Nabi adalah yang paling utama.

Cara berziarah yang benar adalah dengan mendatangi makam dengan penuh rasa hormat dan kecintaan, mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, kemudian salam kepada Abu Bakar dan Umar yang dimakamkan di sisinya, lalu berdoa dan berlanjut ke dalam masjid untuk shalat. Tidak ada tempat yang lebih tepat untuk mendoakan orang-orang yang dicintai dari seluruh penjuru bumi selain di depan makam manusia yang paling dicintai Allah.

Madinah Bukan Hanya Masjid Nabawi

Meski Masjid Nabawi adalah pusat dari segala keutamaan di Madinah, kota ini menyimpan banyak tempat bersejarah lainnya yang sangat bermakna untuk dikunjungi.

Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam — didirikan langsung oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika tiba di Madinah dalam hijrahnya dari Mekkah. Shalat dua rakaat di Masjid Quba pahalanya setara dengan pahala umroh menurut hadis Nabi. Ini adalah keutamaan yang sangat besar untuk masjid yang perjalanannya dari Masjid Nabawi hanya membutuhkan waktu beberapa menit.

Masjid Qiblatayn adalah masjid yang menyimpan sejarah perubahan arah kiblat — dari Baitul Maqdis di Yerusalem ke Masjidil Haram di Mekkah. Di sinilah perintah itu datang ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sedang shalat, dan beliau langsung mengubah arah kiblatnya di tengah shalat.

Kebun Kurma dan Pasar Kurma di Madinah adalah pengalaman tersendiri yang tidak ditemukan di tempat lain — berbagai jenis kurma terbaik dari seluruh Arabia tersedia di sini, dan mencicipinya langsung di kota tempat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sangat mencintai kurma adalah pengalaman yang sederhana tapi berkesan.

Jabal Uhud — bukit tempat Perang Uhud berlangsung dan di mana tujuh puluh sahabat Nabi syahid — adalah tempat yang menghadirkan pelajaran sejarah dan spiritual sekaligus. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sangat mencintai Uhud dan menyebutkan bahwa Uhud mencintai beliau dan beliau mencintai Uhud.

Adab Berkunjung ke Masjid Nabawi

Masjid Nabawi bukan sekadar bangunan besar dengan fasilitas modern. Ia adalah tempat yang penuh dengan kemuliaan dan kehormatan — dan setiap jamaah yang berkunjung dianjurkan untuk menjaga adab yang sesuai dengan kedudukannya.

Berpakaian dengan rapi dan sopan adalah hal yang paling mendasar. Masjid Nabawi adalah rumah Allah dan tempat peristirahatan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam — bukan tempat yang layak didatangi dengan pakaian yang tidak mencerminkan penghormatan.

Menjaga ketenangan dan kekhusyukan di dalam masjid adalah adab yang sangat penting. Masjid Nabawi di waktu-waktu tertentu bisa sangat ramai — tapi keramaian itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk berbicara keras, berfoto berlebihan, atau melakukan hal-hal yang mengganggu kekhusyukan orang lain yang sedang beribadah.

Memperbanyak shalawat kepada Nabi selama berada di kota beliau adalah amalan yang sangat dianjurkan. Setiap langkah di Madinah adalah langkah di kota yang mencintai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam — dan cara terbaik untuk merespons cinta itu adalah dengan shalawat yang tulus dari hati.

Tidak mengangkat suara di dekat makam Nabi adalah adab yang secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur'an — bahwa orang-orang beriman dilarang mengangkat suara mereka melebihi suara Nabi. Meski Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sudah wafat, penghormatan ini tetap berlaku — dan banyak ulama yang menyebutkan bahwa adab di depan makam beliau sama dengan adab ketika beliau masih hidup.

Madinah — Kota yang Menyembuhkan Rindu

Ada sesuatu yang sangat khas dari Madinah yang tidak ditemukan di tempat lain — kedamaian yang mengalir perlahan, suasana yang terasa lebih tenang dari Mekkah, dan rasa rindu yang anehnya terasa semakin kuat justru ketika sedang berada di sana.

Banyak jamaah yang menceritakan bahwa mereka menangis bukan karena kesedihan ketika di Madinah — tapi karena rindu. Rindu kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang hidupnya adalah perwujudan Islam yang paling sempurna. Rindu kepada masa ketika para sahabat bisa duduk bersama beliau, mendengar suaranya, dan menerima bimbingannya secara langsung.

Kerinduan itu adalah tanda cinta — dan cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah salah satu fondasi keimanan yang paling kokoh. Jamaah yang pulang dari Madinah membawa kerinduan itu bersama mereka — dan kerinduan itulah yang mendorong untuk terus mengikuti sunnahnya, terus membaca shalawat untuknya, dan terus berusaha menjadi umat yang layak mendapat syafaatnya di hari yang paling menentukan.

Shalat di Masjid Nabawi bukan sekadar menunaikan kewajiban di tempat yang berbeda dari biasanya. Ia adalah berdiri di tanah yang paling bersejarah dalam Islam, di masjid yang dibangun dengan tangan-tangan para sahabat terbaik, di depan mihrab yang pernah menjadi tempat berdirinya manusia paling mulia.

Setiap takbir yang diucapkan di sana membawa nilai yang tidak bisa diukur. Setiap sujud yang dilakukan di sana menyentuh tanah yang penuh dengan keberkahan. Dan setiap doa yang dipanjatkan di sana terasa lebih dekat ke langit dari yang bisa dirasakan di tempat manapun selain Masjidil Haram.

Jika Allah mengizinkan kaki untuk melangkah ke Madinah — jangan lewatkan satu pun waktu shalat di Masjid Nabawi. Hadirlah dengan sepenuh hati. Karena kesempatan seperti ini tidak datang dua kali dengan cara yang persis sama — dan setiap momen yang dihabiskan di sana adalah momen yang akan terus dikenang sepanjang sisa kehidupan. 

Terkait