Rabu, 4 Februari 2026

Kisah Mencari di Lautan Jenazah

Kisah Mencari di Lautan Jenazah

Di balik angka-angka korban, ada kisah-kisah yang menghancurkan hati. Seorang pemuda bernama Irtaza menghabiskan waktu berhari-hari menjelajahi mayat-mayat yang berjejer di jalan, menarik kain dari wajah para korban, setiap kali berharap itu adalah wajah ibunya.

Pamannya yang datang belakangan menggambarkan pemandangan mengerikan: sekitar enam atau tujuh truk bermuatan mayat diparkir di luar kamar mayat, darah menetes dari truk dan merembes ke pintu kamar mayat.

Rashid Siddiqui, warga AS yang selamat dari tragedi itu, berhasil lolos dalam keadaan tanpa alas kaki, bertelanjang dada, dan linglung. Namun, saudara ipar dan istrinya tidak seberuntung itu. Keduanya meninggal, meninggalkan dua anak kecil.

Lambatnya Respons yang Memperparah Duka

Yang membuat tragedi ini semakin menyakitkan adalah respons penanganan yang dianggap terlambat dan buruk. Jurnalis dan sejarawan Vijay Prashad menyebutkan bahwa para penyintas mengatakan kepada wartawan bahwa respons Saudi terhadap tragedi itu "terlalu sedikit, terlalu terlambat," menekankan bahwa petugas penyelamat Saudi tiba hampir dua jam setelah kejadian.

Sebanyak 4.000 pekerja dan 220 ambulans dikirim ke lokasi kejadian, namun evakuasi memakan waktu sepuluh jam untuk diselesaikan. Yang lebih memilukan, banyak upaya difokuskan pada pemindahan jenazah—sementara para korban yang terluka dibiarkan tidak tertangani dan terus berjatuhan.

Angka Korban: Misteri yang Tak Terungkap

Hingga kini, jumlah pasti korban Tragedi Mina 2015 masih menjadi teka-teki yang mencengangkan:

Versi Resmi Arab Saudi: 769 jemaah meninggal dunia dan 863 orang terluka

Versi Associated Press (AP): 2.411 korban jiwa berdasarkan perhitungan dari laporan pemulangan jenazah berbagai negara

Versi Agence France-Presse: 2.236 orang tewas

Data sementara Saudi yang kemudian dihapus: Pada 29 September 2015, Kementerian Kesehatan Arab Saudi mengumumkan bahwa 4.173 orang meninggal dalam insiden Mina, namun halaman ini dihapus dari situs web dalam tiga jam

Perbedaan angka yang begitu drastis—dari 769 hingga lebih dari 4.000—menimbulkan pertanyaan serius tentang transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan ibadah haji.

Korban dari Indonesia

Bagi Indonesia, tragedi ini meninggalkan luka yang mendalam. Total korban wafat dari Indonesia dalam Tragedi Mina berjumlah 129 orang, dengan rincian 124 jemaah haji Indonesia dan 5 orang WNI yang bermukim di Arab Saudi.

Proses identifikasi korban memakan waktu berminggu-minggu. Tim PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) terus melakukan pencarian hingga akhirnya, pada 16 Oktober 2015, semua jemaah Indonesia yang dilaporkan hilang sudah dapat dipastikan keberadaannya.

Tragedi yang Berulang: Sejarah Kelam Mina

Tragedi Mina 2015 bukanlah yang pertama, dan sayangnya bukan yang terakhir. Mina memiliki sejarah kelam yang panjang:

  • 1990: 1.426 jemaah meninggal akibat kehabisan napas dan terinjak-injak di Terowongan Mina, sebagian besar korban adalah jemaah dari Asia, terutama Indonesia dan Malaysia
  • 1994: 270 jemaah meninggal dalam kepanikan saat melempar jumrah
  • 1997: 343 jemaah meninggal dan lebih dari 1.500 cedera akibat kebakaran yang dipicu tabung gas yang meledak, api menjalar ke 70 ribu tenda
  • 2004: 244 jemaah meninggal dan sama jumlahnya luka-luka di al-Jamarat
  • 2006: 345 jemaah meninggal akibat berdesak-desakan saat melaksanakan ritual lempar jumrah, insiden bermula saat koper-koper dari sebuah bus jatuh
  • 2015: Tragedi paling mematikan dengan estimasi korban 2.000-4.000 jiwa

Diperkirakan 70% dari semua stampede manusia di dunia terjadi karena pertemuan religius. Haji, dengan jutaan jemaah yang harus menyelesaikan rangkaian ritual dalam waktu lima hari di area terbatas, menjadi salah satu acara paling berisiko tinggi.

Reaksi Dunia dan Ketegangan Politik

Tragedi ini memicu gelombang kesedihan dan kemarahan global. Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, mengumumkan tiga hari berkabung nasional dan menyatakan, "Pemerintah Saudi wajib memikul tanggung jawab beratnya dalam insiden pahit ini. Mismanajemen dan tindakan tidak tepat yang melatarbelakangi tragedi ini tidak boleh diabaikan".

Iran kehilangan jumlah korban terbanyak dalam tragedi ini, dan ketegangan politik antara Riyadh dan Teheran yang sudah memanas akibat konflik di Suriah dan Yaman menjadi semakin memburuk.

Presiden AS Barack Obama melalui juru bicaranya menyatakan, "Amerika Serikat menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga ratusan jemaah haji yang tewas dan ratusan lainnya yang terluka dalam stampede yang memilukan di Mina".

Bahkan Paus Fransiskus dari Gereja Katolik Roma mengungkapkan "perasaan kedekatan dalam menghadapi tragedi yang dialami umat Muslim hari ini di Mekah".

Pertanyaan Tanpa Jawaban

Setelah tragedi, Mufti Agung Arab Saudi, Abdul-Aziz bin Abdullah Al ash-Sheikh, melepaskan Putra Mahkota Muhammad bin Nayef dari tanggung jawab atas bencana tersebut, dengan menyatakan, "Anda tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi". Pernyataan ini justru memicu kemarahan dari negara-negara yang kehilangan warganya.

Pemerintah Nigeria menolak pernyataan Menteri Kesehatan Saudi yang menyalahkan jemaah karena "tidak mengikuti instruksi". Banyak pihak mempertanyakan: bagaimana bisa jemaah disalahkan ketika sistem pengelolaan massa yang gagal?

Kiamat Sugra di Persimpangan Jalan 204

Dalam ajaran Islam, kita mengenal konsep Kiamat Sugra—kiamat kecil yang dialami setiap jiwa saat ajal tiba. Bagi dunia, 24 September 2015 mungkin hanya sebuah headline berita yang berlalu. Tapi bagi ribuan jemaah di persimpangan Jalan 204 dan 223 itu, pagi Idul Adha tersebut adalah hari terakhir mereka di dunia.

Dunia mereka telah berakhir. Harta yang dikumpulkan bertahun-tahun untuk berangkat haji, jabatan yang diperjuangkan, keluarga yang ditinggalkan—semua menjadi sia-sia. Yang tersisa hanya kain ihram putih dan catatan amal yang mereka bawa menghadap Sang Khaliq.

Bagi yang selamat, trauma itu tak akan pernah hilang. Rashid Siddiqui, yang selamat dari tragedi itu, mengakui, "Saya ada di sana, tapi saya tidak bisa memberi tahu Anda secara pasti apa penyebabnya". Setelah kembali ke rumah, ia meneliti apa yang terjadi, memetakan rute yang ia ambil, dan menulis tentang pengalamannya. Akhirnya, katanya, ia berhenti mencari jawaban.

Pelajaran yang Harus Dipetik

Jadwal melontar yang telah ditetapkan pemerintah Arab Saudi seharusnya ditaati semua pihak, sebab area pelontaran Mina tidak terlalu luas—meski pemerintah Saudi sudah memperlebar pilar jamarat dan membuat jalan layang beberapa tingkat, semua itu tetap tidak mampu menampung jutaan orang dalam waktu bersamaan.

Kedisiplinan bukan hanya soal mengikuti aturan, tapi soal keselamatan nyawa. Ketika jutaan orang berkumpul di ruang terbatas dengan jadwal ketat, satu kesalahan kecil bisa memicu bencana besar.

Sejak tragedi 2015, pemerintah Arab Saudi telah melakukan berbagai perbaikan infrastruktur dan sistem pengelolaan massa. Namun pertanyaannya tetap menggantung: apakah cukup untuk mencegah terulangnya tragedi serupa?

Jalan 204 kini telah sepi kembali, ramai hanya ketika musim haji tiba. Tapi bagi mereka yang kehilangan orang terkasih, jalan itu akan selamanya menjadi tempat di mana dunia mereka runtuh. Bagi umat Islam di seluruh dunia, Tragedi Mina 2015 adalah pengingat keras: bahwa kematian bisa datang kapan saja, bahkan di tanah suci sekalipun.

Dan bahwa persiapan terbaik untuk menghadapinya adalah amal saleh yang kita lakukan hari ini—sebelum terlambat.

Sumber cerita ini diperoleh dari berbagai sumber.

Terkait