Adab Perjalanan Ibadah: Bukan Cuma Piknik ke Tanah Suci
Umroh Bukan Liburan Biasa
"Umroh kok kayak jalan-jalan biasa? Foto-foto mulu, belanja mulu, malah sempat-sempatnya ribut sama sesama jamaah."
Sayangnya, pemandangan kayak gini sering terjadi. Padahal umroh adalah perjalanan ibadah, bukan tour wisata. Ada adab yang harus dijaga dari berangkat sampai pulang.
Luruskan Niat: Karena Allah, Bukan Karena Gengsi
Kenapa mau umroh? Karena Allah atau karena temen-temen udah pada berangkat?
Niat yang benar: mencari ridho Allah, mengharap ampunan dosa, dan menunaikan sunnah Rasulullah. Bukan karena gengsi, biar dibilang "Haji," atau supaya bisa upload ke media sosial.
Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya." Luruskan niat sejak dari rumah, bahkan sejak mulai nabung.
Persiapan Hati, Bukan Cuma Koper
Banyak jamaah sibuk beli koper baru, baju ihram mahal, persiapan skincare—tapi lupa persiapan hati.
Yang perlu dilakukan: Belajar manasik dengan baik, perbanyak istighfar dan taubat, minta maaf ke orang yang pernah kita sakiti, bayar hutang, dan perbanyak doa. Hati yang bersih membuat ibadah lebih khusyuk.
Adab di Pesawat dan Hotel
Di Pesawat: Tepat waktu saat boarding, duduk sesuai tempat, tidak berisik, jaga kebersihan, dan hormati sesama penumpang.
Di Hotel: Jaga kebersihan kamar, tidak berisik malam hari, hemat air dan listrik, hormati staff, dan jangan bawa pulang perlengkapan hotel tanpa izin.
Adab di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Ini tempat paling suci. Adabnya harus lebih dijaga.
Saat masuk: Kaki kanan sambil berdoa, silent HP, tidak berfoto berlebihan saat tawaf atau sa'i, jaga suara tetap rendah.
Saat ibadah: Fokus, jangan ngobrol atau main HP, tidak mendorong jamaah lain saat tawaf, ikuti arus, kalau capek minggir ke area longgar. Rasulullah bersabda: "Barangsiapa menyakiti kaum muslimin di jalan mereka, maka dia mendapat laknat mereka."
Adab dengan Sesama Jamaah
Dalam satu grup, kita bersama selama belasan hari. Jaga ukhuwah.
Yang harus dilakukan: Saling membantu terutama yang lanjut usia, sabar dengan karakter berbeda, tidak bergosip, berbagi makanan, dan jaga waktu.
Yang harus dihindari: Egois, memaksakan kehendak, iri dengan fasilitas jamaah lain, atau membanding-bandingkan dengan grup lain.
Adab Belanja dan Transaksi
Belanja oleh-oleh boleh, tapi tetap ada adabnya: tidak menawar dengan kasar, jujur dalam transaksi, tidak serakah, membayar dengan jujur, dan tidak ribut dengan penjual atau jamaah lain.
Ingat, kita sedang di Tanah Suci. Perilaku kita diamati orang.
Hormati Tour Leader dan Muthawwif
Mereka capek mengatur dan melayani jamaah. Dengarkan instruksi dengan baik, tidak membantah, bersabar kalau ada perubahan jadwal, sampaikan keluhan dengan cara baik, dan doakan mereka.
Adab Berdoa
Berdoa dengan khusyuk, gunakan waktu mustajab (saat tawaf, di Multazam, di Raudhah), berdoa untuk diri sendiri dan sesama muslim, tidak mengeraskan suara, dan yakin akan dikabulkan Allah.
Hindari berdoa hanya untuk hal duniawi. Utamakan doa untuk ampunan, surga, dan kebaikan akhirat.
Jaga Perubahan Positif Setelah Pulang
Banyak jamaah yang khusyuk saat umroh, tapi begitu pulang balik ke kebiasaan lama.
Yang harus dijaga: Pertahankan kebiasaan baik (sholat tepat waktu, baca Quran, dzikir), tetap jaga akhlak, berbagi ilmu dan pengalaman spiritual, minta maaf kalau ada salah ke sesama jamaah, dan bawa oleh-oleh sebagai wujud syukur.
Jangan sampai umroh cuma jadi stempel di paspor dan foto di Instagram, tapi hati dan perilaku tetap sama.
Umroh adalah perjalanan spiritual yang mulia. Dengan menjaga adab dari awal sampai akhir, insya Allah pahala maksimal dan perjalanan benar-benar berkah.
Sebagai mitra travel, tugas kita bukan cuma mengantarkan jamaah ke Tanah Suci, tapi juga mengingatkan mereka agar perjalanan ini bermakna. Karena yang penting bukan seberapa mahal paketnya, tapi seberapa ikhlas niatnya dan seberapa baik adabnya.